Ekstrakurikuler Pramuka di tingkat sekolah dasar merupakan salah satu sarana pembentukan karakter yang paling efektif. Di SDI Lembang Jaya No. 83, kegiatan ini berperan penting dalam mendidik siswa menjadi pribadi yang tangguh, bertanggung jawab, serta memiliki semangat nasionalisme dan jiwa kepemimpinan. Pramuka bukan hanya tentang latihan baris-berbaris atau kegiatan luar ruangan semata, tetapi merupakan proses pembelajaran holistik yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Anak-anak diajarkan nilai-nilai dasar kepramukaan seperti kedisiplinan, kejujuran, kemandirian, kerja sama, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Kegiatan Pramuka biasanya terstruktur dalam bentuk latihan mingguan yang meliputi materi sandi-sandi (sandi Morse, sandi angka), tali-temali, pertolongan pertama, hingga kegiatan penjelajahan dan pengamatan lingkungan. Siswa juga dilibatkan dalam kegiatan perkemahan Sabtu-Minggu (Persami), yang memberikan pengalaman nyata tentang hidup mandiri dan bekerja dalam tim. Melalui simulasi kehidupan alam terbuka, siswa belajar membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan membangun solidaritas. Tidak hanya itu, Pramuka juga memperkenalkan siswa pada konsep-konsep kepemimpinan dasar dengan sistem regu dan kelompok, di mana setiap anak berkesempatan menjadi pemimpin dan pengatur kegiatan. Hal ini menjadi bekal penting bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri secara menyeluruh, sekaligus membentuk kepribadian yang berintegritas dan berdaya saing.
Ekstrakurikuler seni dan budaya merupakan wadah penting bagi pengembangan potensi estetika, ekspresi diri, dan pelestarian warisan budaya lokal. Di SDI Lembang Jaya No. 83, kegiatan ini dapat menjadi ruang yang kaya makna bagi siswa untuk mengenal dan mencintai budaya daerah Kepulauan Selayar maupun budaya nasional Indonesia secara lebih luas. Dalam kegiatan ini, siswa dibimbing untuk mengembangkan bakat mereka dalam seni tari, seni musik, seni lukis, seni peran (drama), dan seni suara. Melalui pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, siswa mampu menyalurkan emosi serta imajinasi mereka secara positif.
Salah satu fokus utama adalah penguatan budaya lokal, seperti tari-tarian tradisional Sulawesi Selatan (misalnya Tari Pakarena atau Tari Padduppa), pengenalan alat musik tradisional seperti kecapi atau gendang, serta pelafalan lagu-lagu daerah yang penuh makna. Siswa diajak tidak hanya untuk menirukan, tetapi memahami makna di balik setiap gerakan, lirik, dan irama, sehingga tercipta ikatan emosional yang kuat terhadap warisan budaya mereka. Selain latihan teknis, siswa juga diberi ruang untuk tampil di acara peringatan hari besar nasional, pameran seni sekolah, maupun perlombaan antar sekolah. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka, serta kemampuan berkomunikasi dan tampil di depan umum.
Kegiatan seni dan budaya juga mendorong siswa untuk bekerja secara kolaboratif. Misalnya, dalam pertunjukan drama, siswa belajar membagi peran, menyesuaikan diri dalam kelompok, serta menyampaikan ekspresi dengan percaya diri. Kegiatan ini sangat penting dalam membentuk kepekaan sosial, empati, dan rasa hormat terhadap keberagaman. Lebih dari sekadar hiburan, seni dan budaya menjadi bagian integral dari pendidikan karakter dan jati diri bangsa. Dengan keterlibatan yang aktif dalam ekstrakurikuler ini, siswa tumbuh tidak hanya sebagai pelajar yang cerdas, tetapi juga sebagai generasi penerus yang memiliki kepekaan budaya dan jiwa kebangsaan.